24 Nov 2016

Musibah: kejadian untuk berpikir

Created By: Safa di 11/24/2016 06:47:00 AM
Akhir tahun jadi waktu yang tepat buat ngelakuin hal yang sifatnya have-fun. Seolah menjadi momen buat ngelampiasin segala kepenatan aktivitas dari awal tahun. Ngga heran, banyak banget spanduk-spanduk berkonten hiburan menyapa mata di sepanjang jalan menuju kampus. Yap, berbagai fakultas rasanya ngga mau kalah mempromosikan acara mereka di beberapa titik. Sahutan-sahutan ramah yang menawarkan harga tiket 'semurah' mungkin sudah biasa terdengar kala senja menyapa. Beberapa orang mungkin tergoda untuk ngerelain uangnya demi berdiri berjam-jam di tengah gemerlap lampu dengan sound effect yang fantastik. Namun, beberapa lagi ngga. Termasuk aku.


Bukan, aku bukan melarang kegiatan seperti itu, kegiatan yang untuk sebagian orang bisa merefresh pikiran mereka. Hanya saja, aku menulis ini untuk jadi bahan renungan. Iya, renungan dari seseorang yang hatinya tercabik di tengah berbagai musibah dan bencana di negeri tercinta.
Jumat siang itu, sembari mengisi waktu kosong menuju kuliah selanjutnya, aku mengikuti kajian kemuslimahan di mushola fakultas. Diisi oleh salah satu dosen yang merupakan alumni fakultasku, membahas tentang ahlul qur'an. Aku bukan ingin membahas materi kajian kemarin. Hanya saja, ada salah satu kalimat pembuka yang sedikit menohok diriku. Beliau bilang, "Dulu, waktu saya masih kuliah, di sini ngga pernah ada banjir sama sekali. Beda ya, sama sekarang."
Sudah paham ke mana arah tulisanku?
Kalau belum, mari lanjutkan.
Minggu pagi, ditemani secangkir teh hangat, mataku fokus ke layar televisi yang sibuk memberitakan kejadian terkini. Kejadian yang lagi-lagi membuat bibirku mengucap istigfar. Ya, bencana banjir yang melanda daerah-daerah di negeri ini. Banjir yang katanya disebabkan oleh hujan lebat disertai angin kencang. Bahkan tempat-tempat perbelanjaan mewahpun tidak cukup kokoh untuk melindungi diri dari hujan dan angin kencang. Juga, hujan yang tidak pernah mampir di beberapa tempat, kini ikut berteduh di dalamnya.
Kawan, itu hanyalah gambaran kecil dari seluruh peristiwa besar yang sedang terjadi di luar sana. Di saat kita sedang menjadi orang yang sedang berbahagia, jauh di suatu tempat mereka sedang berjuang untuk bertahan hidup. Aku pribadi, merasa seperti pengecut. Yang hanya bisa mengeluh saat tugas tidak henti-hentinya datang. Yang selalu berucap agar semuanya segera berakhir. Yang hanya menganggap lalu musibah yang sedang dihadapi oleh saudara-saudaraku di luar sana. Yang..... Ah, aku malu mengungkapkan semuanya.
Dan, tentu, aku juga malu melihat media sosial penuh dengan foto euforia di suatu acara hiburan. Acara yang bercampur dengan lawan jenis bukan mahram. Acara yang berlangsung berjam-jam di malam hari. Ya, malam hari. Saat yang tepat untuk bermesraan dengan Sang Pencipta.

Ingat ngga bahwa Allah berfirman dalam surat An-nahl (16): 112
"Dan Allah telah membuat suatu perumpamaan (dengan) sebuah negeri yang dahulunya aman lagi tenteram, rezeki datang kepadanya melimpah ruah dari segenap tempat, tetapi (penduduknya)nya mengingkari nikmat-nikmat Allah, karena itu Allah menimpakan kepada mereka bencana kelaparan dan ketakutan, disebabkan apa yang mereka perbuat."
Aku takut, walau aku tidak berada di antara mereka, di antara ratusan orang yang tengah berjingkat menikmati alunan musik live, jika Allah timpakan bencana. Saat itu juga. Saat kita lengah.
Padahal Allah berfirman dalam surat Al-Araf (7): 97-99,
"Maka apakah penduduk negeri itu merasa aman dari siksaan Kami yang datang malam hari ketika mereka sedang tertidur? Atau apakah penduduk negeri itu merasa aman dari siksaan Kami yang datang pada pagi hari ketika mereka sedang bermain? Atau apakah mereka merasa aman dari siksaan Allah (yang tidak terduga-duga)? Tidak ada yang merasa aman dari siksaan Allah selain orang-orang yang rugi."
Sadar ngga, kalau kita diperintahkan untuk berpikir atas apapun yang terjadi? Dalam firman-Nya, surat Yunus (10): 24
 "Sesungguhnya perumpamaan kehidupan duniawi itu hanya seperti air (hujan) yang Kami turunkan dari langit, lalu tumbuhlah tanaman-tanaman bumi dengan subur (karena air itu), di antaranya ada yang dimakan manusia dan hewan ternak. Hingga apabila bumi itu telah sempurna keindahannya, dan berhias, dan pemiliknya mengira bahwa mereka pasti menguasainya (memetik hasilnya), datanglah kepadanya azab Kami pada waktu malam atau siang, lalu Kami jadikan (tanaman)nya seperti tanaman yang sudah disabit, seakan-akan belum pernah tumbuh kemarin. Demikianlah Kami menjelaskan tanda-tanda (kekuasaan kami) kepada orang yang berpikir."
Pertanyaannya, sudahkah kita berpikir? Tentang segala nikmat Allah yang berlimpah, juga segala musibah yang Allah timpakan?
Mengapa kita begitu lalai untuk bersyukur? Mengapa kita ngga peka dengan tanda-tanda kekuasaan-Nya? Mengapa tetap melakukan hal yang ngga bermanfaat atau hal yang akan mendatangkan murka Allah disaat Allah sudah kirimkan kepada kita musibah untuk jadi bahan renungan? Haruskah datang dulu musibah kepada tiap-tiap dari kita, baru kita akan kembali kepada-Nya?
Kamis, 24 November 2016.

0 komentar:

Posting Komentar

Give your comment here^^

 

Rafisa Corner Template by Ipietoon Blogger Template | Gadget Review