29 Apr 2016

Sepenggal cerita dari Desa Lengkongjaya

Created By: Safa di 4/29/2016 07:06:00 AM
Oleh: Raudatu Fiqro Safarina
Penerima manfaat program Beasiswa Pemimpin Bangsa angkatan 5
Pagi itu langit mulai terlihat biru. Jalanan yang lengang dari aktivitas membuat angkutan umum yang kami naiki melaju dengan bebas. Sempat terlintas untuk bertanya perihal pembinaan yang dilaksanakan di Tasik jauh-jauh hari, namun hari ini kalimat itu baru ke luar dari mulut saya. “Apa saja yang kalian dapatkan saat berkunjung ke Tasik kemarin?”

Tidak banyak cerita yang saya dapatkan. Tapi itu semua cukup membuat saya terkesan dan seperti ikut merasakan berada di Desa Lengkongjaya, Kecamatan Cigalontang, Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat. Obrolan pagi di angkutan umum menuju kampus dipenuhi dengan kekaguman saya terhadap desa tersebut.
Sambutan hangat, seperti keluarga sendiri
Perjalanan yang ditempuh cukup jauh, seperti yang digambarkan rekan-rekan saya. Ditambah perjalanan yang dilakukan dengan berjalan kaki. Sebagai orang perkotaan yang biasa menggunakan alat transportasi, pasti rasanya sulit untuk berjalan kaki dengan jarak yang jauh. But, there is always a positive side. Selama perjalanan tersebut, pemandangan alam yang masih asri dan udara yang sejuk menjadi sambutan pertama yang menentramkan hati. Tidak hanya itu, setelah sampai di desa, sambutan dari kepala desa dan warga sekitar yang ramah sangat terasa. Seluruh warga saling membantu menyiapkan berbagai makanan dan minuman untuk disuguhkan. Ah, saya bisa membayangkan seperti sedang berkunjung ke rumah keluarga sendiri.
Suasana yang hangat, perilaku yang ramah dan saling gotong-royong adalah hal yang sudah dilupakan pada zaman sekarang. Tidak jarang kita jumpai di sekitar kita bahwa banyak orang yang hanya ‘berjalan sendiri-sendiri’. Seolah mengabaikan nilai identitas nasional, melenyapkan jati diri bangsa sendiri.
Kondisi ekonomi
Hasil pertanian di desa Lengkongjaya terbilang cukup baik kualitasnya. Beras yang dihasilkan juga mempunyai mutu yang bagus. Namun, hasil tani tersebut tidak bisa dirasakan seluruhnya oleh masyarakat sekitar. Tidak sedikit dari mereka yang malah menikmati raskin (beras miskin) dibanding beras hasil pertanian mereka sendiri.
Kesulitan dalam membeli benih dan mahalnya harga pupuk sangat dirasakan oleh warga sekitar. Pendapatan yang didapat juga terbilang pas-pasan untuk kebutuhan sehari-hari. Sehingga tak jarang kita temui banyak para orang tua yang lulusannya hanya sampai jenjang sekolah dasar. Hal tersebut tidak sebanding dengan potensi sumber daya alam yang dimiliki.
Bangkit dari keterpurukan
Seperti yang diketahui bahwa masyarakat sekitar sebagian besar bekerja di sektor pertanian. Namun karena masih rendah dalam hal pendidikan, hasil jual pertanian diserahkan langsung kepada tengkulak begitu saja. Mereka hanya bisa meng’iya’kan para tengkulak yang sebenarnya sangat merugikan mereka sendiri.
Hingga pada 2009 terjadi bencana puting beliung yang merusak sektor pertanian di sana. Kita tidak bisa menyalahkan apa yang terjadi dan berdiam diri tanpa berbuat apa-apa untuk berubah ke arah lebih baik. Tetapi hal yang harus dilakukan adalah mengambil hikmah dari setiap kejadian yang menimpa diri kita. Dari situlah kita bisa bersyukur terhadap apa yang terjadi.
Sama seperti bencana yang terjadi 7 tahun lalu. Banyak hikmah yang bisa dipetik oleh masyarakat sekitar. Setelah bencana terjadi, banyak bantuan yang datang silih berganti. Salah satunya adalah bantuan dari Sinergi Foundation yaitu Lumbung Desa. Program ini bertujuan untuk mengembalikan desa kepada khittahnya, yaitu sebagai sumber pangan Indonesia. Banyak manfaat yang dirasakan oleh masyarakat dengan adanya program ini. Salah satunya yaitu masyarakat bisa meminjam kebutuhan sehari-hari di lumbung desa.
Tidak melaksanakan sholat = denda Rp 1.000,-
Di Lengkongjaya terdapat sebuah madrasah tempat anak-anak mengenyam pendidikan. Tidak ada pungutan sepeserpun yang ditarik dari mereka. Namun, hal yang menarik di sini adalah adanya denda Rp 1.000,- setiap mereka bolos sholat. Menurut saya, tidak sulit untuk membentuk kebiasaan baik, hanya perlu ketegasan yang dilakukan secara konsisten.
Apa yang dilakukan di desa ini sangat membuat saya terkesan. Tidak hanya fokus pada hal-hal yang bersifat duniawi, tapi spiritualnya pun ditekankan. Terutama kepada anak-anak yang merupakan calon penerus bangsa. Menurut penuturan rekan-rekan saya yang terjun langsung ke sana, ada seorang ustadz yang memiliki andil besar terhadap perubahan mereka. Namanya Ustadz Gugun.
Walaupun hanya lulusan sekolah dasar, tetapi keinginannya untuk menciptakan perubahan ke arah lebih baik patut diacungi jempol. Beliau dengan sukarela mengajak masyarakat untuk menabung agar hasil tabungannya bisa dipakai untuk keperluan mendesak. Pada awalnya memang masyarakat menganggap remeh hal tersebut. Namun, karena keteguhan hati Ustadz Gugun yang ingin mengubah desanya menjadi lebih baik akhirnya membuahkan hasil.
Terbukti dengan dilakukannya kunjungan tokoh ke Desa Lengkongjaya, sangat terasa kekeluargaan di antara mereka. Para warga tidak segan-segan untuk membuka pintu rumah mereka jika ada yang meminta bantuan.
Hasil panen yang seringkali melimpah juga sudah bisa dimanfaatkan dengan baik oleh masyarakat sekitar. Mereka mengolah hasil pertanian dan dinikmati bersama-sama. Menurut saya, ini sangat menarik. Warga masyarakat bisa lebih sering berkumpul bersama-sama dan meningkatkan rasa kekeluargaan mereka.
Pembelajaran hidup dari sepenggal cerita
Banyak yang saya dapatkan dari cerita rekan-rekan mengenai kunjungan mereka ke Desa Lengkongjaya. Juga sempat membuat saya bercermin. Apakah saya sudah seperti mereka yang menganggap orang lain seperti saudara sendiri? Atau, apakah saya sudah seacara konsisten melakukan hal-hal baik demi mengubah diri saya menjadi pribadi yang lebih baik? Sepenggal kisah ini mampu menggerakkan hati saya. Terima kasih kepada tokoh-tokoh di Desa Lengkongjaya yang mempunyai semangat menciptakan perubahan. Karena pada hakikatnya, seorang pemimpin adalah orang yang mampu menginspirasi, menggerakkan dan menciptakan perubahan.

0 komentar:

Posting Komentar

Give your comment here^^

 

Rafisa Corner Template by Ipietoon Blogger Template | Gadget Review